Debur Ombak Selatan

Aku pertama kali bertemu dengannya saat sedang menikmati segelas cokelat hangat di Djendelo coffee, kafe bernuansa klasik dengan banyak elemen kayu yang menjadi favoritku. Dia adalah salah satu pengunjungnya. Malam itu sedang berlangsung acara samudera kata, malam pembacaan puisi. Cafe menjadi riuh ramai, banyak meja yang sudah penuh, tinggal mejaku sendiri dekat dengan jendela besar.

‘boleh aku duduk?’ sapanya pertama kali saat bertemu denganku.

Aku hanya tersenyum sambil mengangguk, tanda mempersilahkan. Saat itu aku tak mampu mengenali wajahnya dengan baik, ia mengenakan topi berwarna merah maroon, di tambah lampu-lampu Djendelo coffee yang di setting sedikit redup demi menambah suasana syahdu. Aku memalingkan pandanganku ke arah panggung, saat itu penulis idolaku sedang maju membacakan puisinya yang berjudul Laut, dia Bernard Batubara.

“Kamu suka kesini?” tanyanya tiba-tiba
“Sangat. Ini kafe favorite-ku” ujarku
“Aku debur” lanjutnya “kamu?”
“Gendhis” jawabku menghiraukan uluran tangannya
“Nama yang bagus”

Aku hanya diam, tidak menghiraukan tanggapannya itu. Mata, kepala, dan telingaku sibuk dengan sajak yang di bacakan oleh Bernard Batubara, sajak yang membuatku eargasm. 

“Kamu asli Jogja?”
“iya” sambil menoleh ke aranya “kamu bukan orang sini?”
ia melepas topi maroon yang di kenakannya. terlihat wajah tanpa cacatnya dengan kacamata yang menghiasinya.
“iya, aku sedang berlibur. kata temanku kafe ini sangat recomended jadi aku kesini” sambil tersenyum.

Aku lihat matanya yang di pagari oleh kacamata minus itu, pandangan mata yang berbeda. seakan mengajakku untuk terus berbicara dan menarik diriku kepadanya, mata yang biru.

“Coba pesan cokelat sepertiku” sambil menunjuk gelasku “ini yang paling enak”
“Baiklah, aku pesan satu”
“Silahkan kamu panggil pelayan”
“Oh iya, siapa namamu tadi?” tanyaku
“Debur, Debur Ombak Selatan”

***

Kafe Djendelo pada senja hari tidak terlalu ramai, padahal pemandangan di sini sangatlah apik. Dengan leluasa aku bisa menikmati sulur-sulur senja, serta mahakarya Tuhan di langit. Perpaduan Biru dan jingga yang serasi, walau sementara. Hari itu aku berjanji untuk menemui Debur, tepat pukul enam selepas adzan maghrib. Namun aku sengaja untuk datang terlebih dahulu, Demi senja si mahakarya Tuhan. Selain itu, aku juga suka menikmati bebauan di cafe itu. Bau aroma kopi yang tengah di racik menari-nari di udara, kadang bau cokelat, kadang juga bau-bau keduanya yang tercampur apik di udara. Aku memperhatikan arlojiku, jarum menunjukan hampir pukul enam tepat. ‘sebentar lagi dia datang’ gumamku.

aku mengambil kotak bedak di dalam tasku, memperhatikan diriku pada cermin kecil, memastikan dandananku tidak luntur termakan waktu dan peluh.

“hai, dhis” sapanya sedikit mengagetkanku.
aku hanya melempar senyum kepadanya. Debur mendekat kepadaku, mencium keningku. tercium wangi tubuhnya, wangi hangat yang sepertinya campuran dari green apple, grape fruit, serta floral yang menjadi ciri khasnya.
“sudah berapa lama ya kita tidak bertemu?”
“enam bulan” lanjutku “sisanya hanya kalimat kita yang saling bertemu”
“Dan aku rindu” balasnya sambil tersenyum. lesung pipitnya nampak manis.
“aku lebih rindu”

Aku memanggil pelayan cafe untuk memesan minuman. Kopi hitam menjadi pilihanku sore itu, dan dia tetap dengan cokelat panasnya.
“Kasi gula sedikitya” ujarku pada pelayan.

“sejak kapan kamu suka minum kopi hitam?” tanya Debur heran.
“sejak kita menjalani hubungan ini”
“begitu. Dia hampir mencium tentang kita”
“lalu?”
“Bahkan hampir mencari tau ke cenayang. aku hampir di buat mati konyol olehnya”
“tidak apa-apa” sambil tersenyum “bukannya kamu suka?”
“tidak sekonyol itu juga”
“aku mau menagih janji mu yang berbulan-bulan yang lalu. jadi kapan?”
“Tidak sekarang, suasana belum mendukung”
“aku lelah dengan setumpuk janjimu, aku lelah menjalani sandiwara yang kamu buat ini ”
“bersabarlah, pasti akan tiba waktunya, gendhis”
“kamu tau alasanku, kenapa aku suka meminum kopi hitam itu?”
Debur hanya menggeleng dengan tatapan heran.
“karena itu pahit, agar aku bisa menghargai yang manis”

Memang, kata orang meminum kopi hitam itu agar kita bisa menghargai yang manis. itu menjadi topengku, agar aku bisa menghargai manis yang Debur berikan dengan sandiwara-sandiwaranya. Pahitnya membuatku semakin belajar untuk terbiasa menikmati lara, lara yang aku inginkan, menikmati bulir-bulir air mata yang jatuh, setiap denting dua belas malam, karena aku tersadar sebagai manusia. namun setelah itu, aku kembali menjadi bukan manusia yang manusiawi.

“aku ingin memberikan ini” seraya menyerahkan kertas berwarna merah maroon pada Debur.
“Apa ini?” tanyanya
“bacalah”

Aku memperhatikan gerak mata Debur yang membaca kertas itu. air mukanya berubah, matanya terbuka lebar membaca deretan kalimat yang ada di kalimat itu.

“raka mahameru?” tanyanya terkejut
“ya, ada yang salah dengan nama itu?”
“Dia sepupuku, dari mana kau mengenalnya?”
“enam bulan yang lalu, seminggu setelah kita berpisah dari pertemuan terakhir di bali” ujarku

Debur melemparkan kertas itu ke atas meja, kedua telapak tangannya menutupi wajahnya.

“aku tidak butuh apartmen mewahmu, aku tidak perlu tiket liburanmu, bahkan tas Dolce Gabbana seharga jutaan pun aku tidak butuh. aku hanya butuh kepastian saja, debur” lanjutku “Dan maha memberiku itu”
“Tapi apa lebihnya dia di banding aku?” tanyanya dengan nada yang sedikit meninggi
“tenang, kamu menang telak dari dia, untuk soal materi” lanjutku “Namun untuk hati, kamu kalah telak. jadi datang ya”
“secepat ini kamu membuat keputusan pernikahan?”
“Tentu, aku sudah lelah untuk menangisi hal busuk. Aku sudah salah menjadi wanita tak bernurani, pernah di tiduri pria beristri sepertimu, menjalin kasih denganmu. empat tahun sudah kamu menyeretku kedalam permainan haram yang kamu buat atas nama ketulusan”

Aku letakkan selembar uang 50.000 di atas meja, sebagai bayaran untuk minuman kami.

“aku pergi, terimakasih debur” lanjutku “bulan ke tuju, saat purnama, datanglah. itu hari terindahku”

aku bangkit dan berjalan meninggalkan Debur yang masih tidak percaya dengan lembar undangan merah maroon yang aku berikan. Aku merasakan langkah yang ringan di kakiku, tidak ada lagi rasa yang menyeret kakiku, membuat langkahku menjadi berat. Memang benar kata orang-orang, Debur ombak selatan memang sangat berbahaya, sekali saja terkena deburan ombak selatan, pasti langsung akan terseret tenggelam tanpa pernah bisa kembali, cocok dengan namanya, Debur Ombak Selatan. Aku tidak menyangka, pertemuan yang tidak di sengaja pada malam itu, membawaku terseret kedalamnya. selama empat tahun aku terjebak di dasar hubungan gelap. menjalin kasih dengan pria beristri, mengucap cinta, bahkan saling menikmati tubuh, aku sudah tidak seperti manusia lagi. Namun hari  ini, aku bisa kembali menjadi manusia, lepas dari Debur Ombak Selatan.

‘Debur Ombak Selatan, oke, orang tua macam apa yang menamai anaknya dengan Debur Ombak Selatan? tingkahnya persis dengan namanya’ gumamku

 

– Yogyakarta, 29 Des 2013

Advertisements
Tagged , , , , , , , , , ,

One thought on “Debur Ombak Selatan

  1. […] Denny Faisal – Debur Ombak Selatan – https://catatanmahasiswerdodol.wordpress.com/2013/12/29/debur-ombak-selatan/ […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: