Bangun

Malam yang sangat panjang untukku.

aku, gadis yang  sebelumnya penuh dengan senyum di wajah, hanya menyimpan beribu luka patah hati, menyimpan segala harap yang patah. keadaan, aku berteriak memakinya, menjadikannya kambing hitam atas malam ini. Teriakan dan racauan terdengar di seluruh kamarku. barang-barangku yang sebelumnya ku tata rapi, sekarang berserakan seakan baru saja terjadi badai di dalamnya. aku menangis, aku menangis sekencang-kencangnya. sakitnya makin menjalar, dari hati, lalu membutakan akal, dan mulai menyakiti diri dengan segala cacimaki diri sendiri.

air mataku seakan tak mau kering, dadaku di penuhi dengan kepingan-kepingan harapan yang patah, yang membuatku lagi-lagi harus melewati malam dengan racauan-racauan yang absurd. Aku mulai meracau  bahwa keadaan selalu berlaku buruk kepadaku. segala tanya mengapa yang di sisipkan kalimat makian terlontar. Lalu aku mulai meracau tentang pengorbanan, yang seharusnya aku tidak caci maki dengan tanya kenapa. tindakan tulus itu seakan menjadi kelam malam itu. mengutuk diriku dengan tanya mengapa. Kemudian kenangan yang sebelumnya buatku tersenyum sebelum pejam, juga tak luput dari segala sumpah serapahku.

aku tertunduk lemas, setelah puas mencaci semuanya, aku beranjak dari kasurku, menuju depan cermin yang biasa ku gunakan untuk bersolek.  aku melihat sesosok gadis dengan wajah di selimuti awan mendung. wajah yang biasanya dia lihat selalu ada senyum kini telah hilang lenyap di makan amarah. amarah pada diri sendiri. aku tertunduk, menutup wajahku sendiri, mencari pembenaran soal indahnya cinta yang pernah dia tawarkan.

“Kamu mengapa menangis?”
suara seorang gadis terdengar di telingaku. aku buru-buru mencari sumber suara itu. ku sapu semua sudut ruangan kamarku, hanya ada aku seorang di sana. tidak ada siapa pun.
“ke sini, aku bayanganmu”
aku menoleh ke arah cermin. dadaku berdetak kencang, dengan darah yang berdesir cepat di sekujur tubuhku. aku sedikit ketakutan melihat bayanganku sendiri, yang berbeda. lebih bersinar, seperti ada cahaya matahari di atasnya.
“buat apa mememaki, keadaan? kau ingin memaki tuhan?” tanya ‘diriku’ pada cermin itu
“Lalu kenapa selalu seperti ini? ah, aku sudah cukup lelah mencerna sakit patah hati”
“Lihat aku, aku yang ceria ini. aku yang dengan senyum ini. belajarlah dari keadaan, kau berkali-kali seperti itu, namun kau juga berkali-kali mencari yang membuat mu seperti itu” lanjutnya “sekarang renungkan. tidak ada gelap yang tanpa cahaya, sekalipun orang buta. kau hanya mengkambing hitamkan keadaan yang sudah di gariskan tuhan, yang artinya tuhan meminta mu untuk belajar. bukan memaki”
“lantas harus sakit?”
“tidak kah kau ingat waktu kecil kau selalu jatuh, dan menangis, tapi kau tetap ingin berdiri sampai akhirnya kau bisa berjalan? tidak kah kau ingat, kau terjatuh dari sepeda, lalu berusaha berdiri dan terus belajar mengayuh sampai akhirnya kau bisa? lalu mengapa jatuh seperti ini saja kau menangis dan memamki?”
“ini luka hati, bukan luka fisik. bukan sesuatu yang harus di sembuhkan dengan medis” balasku
“memang, tapi bisakah kau seperti itu? bangkit lagi, terus lagi. hidup tidak berhenti hanya karena kau terluka patah hati. penghianatan? itu tamparan keras dari tuhan agar kau tau mana yang baik, mana yang tidak. agar kau belajar, mana yang pantas mana yang tidak”
Aku memikirkan kalimat yang di lontarkannya kepadaku. aku berusaha mencari pembenaran dari ap ayang ia katakan, namun tak kutemukan itu.
“aku sudah kenyang dengan kalimat seperti itu. tapi tetap sama saja”
“ayolah, kamu gadis periang. kamu punya cinta yang tulus..”
“.. tapi aku selalu di khianati. aku selalu di buat patah, dan di buang seakan rongsokan yang siap di gilas habis”
“dasar kepala batu. sekarang kau sedang berada pada gelap pekat. cari cahaya kecil, sekecil apapun. itu menolong mu keluar dari situ. apakah kau akan terus berada di situ? melewatkan yang berhati tulus. bangun. ayo bangun dan cari cahaya itu”
“untuk apa?”
“dasar batu. untuk semua senyum dan segala cinta yang selalu kau tebar dengan senyum mu. aku tau kau kuat. ini hanya sebagian kecil. tidak ada yang salah dengan keadaan, atau segala racauan mu tadi” lanjutnya “kau hanya perlu bangun, dan cari cahaya itu”
“kau bisa menjamin, tidak ada patah hati?”
“semoga, berdoalah. hatimu memang retak, bahkan patah. namun, perasaan mu tidak berubah. masih ada cinta. biarkan yang baru datang, memperbaikinya.”
“apa kau yakin?”
“sangat. hati mu ibarat rumah bagi hati yang lain” lanjutnya “jadi, bangun. ayo bangun” pintanya pada ku dengan senyum. senyum yang sangat aku kenal. senyum yang biasa aku temui sepanjang hari.

kata bangun darinya menggema di seluruh sudut kamarku. sebuah cahaya putih muncul, tidak terlalu besar. aku berjalan menuju cahaya putih itu, tangan ku mencoba meraihnya. sesuatu menariku, untuk masuk ke dalam cahaya itu, seperti mebgajakku berlari.

***

“selamat pagi, anis” sapa suara laki-laki dengan lembut
“uhm, pagi” sapaku yang masih setengah memejam. sulur-sulur matahari pagi, membalutku dengan hangat. sedikit menyilaukan pandanganku.
“akhirnya kau bangun juga. ini kopi untuk mu”
aku bangkit dan menyandarkan punggungku pada tembok. ku lihat Aan menyodorkan secangkir kopi ke arahku. dia mencuri dahiku dengan satu kecupan.
“senyuum dong ah”
“iya, ini aku sudah bangun” balasku sambil senyum

ya,  aku terbangun, dari mimpi sialan itu. akhirnya aku menemukan cahaya dan akhirnya, hatiku sudah menjadi rumah untuk hatinya. aku benar-benar sudah bangun

Advertisements
Tagged

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: