Pulang

Sejauh manapun burung pergi, pasti ia akan rindu sarangnya.

Aku pun bagai burung, sudah bertahun-tahun aku ‘hinggap’ di negeri orang, tempat dimana aku menjalani hidup saat ini rindu untuk pulang. jangan saja negeri, saat kita keluar, kita sendiri pun akan pulang, menuju tempat yang kita sebut rumah. tempat yang bagi sebagian orang untuk melepas topeng yang mereka gunakan setiap hari. Nyaman, bebas, dan terlindungi.

10 tahun aku menetap di Yogyakarta, untuk mencari segala tentang duniawi. tapi 10 tahun tidak dapat menggantikan rasa nyaman pada rumah sendiri, rumah dimana pertama kali kita tumbuh, kita belajar, dan rumah yang menyimpan sejuta kenangan yang hampir dari seluruh hidup kita.

sore itu, aku bertemu dengan sandra, wanita pemilik mata biru yang indah, dengan pipinya yang bulat dan rambut sebahu yang selalu di cepolnya setiap bertemu denganku.

“kamu akan pulang bayu?” tanya sandra kepadaku
“mungkin, dua atau tiga minggu lagi aku akan pulang” sahutku
“lama?”
“mungkin sebulan”
“aku ikut ya bay?” pintanya
“tidak usah, kamu masih banyak deadline bukan? selesaikan dulu semua itu”
“tapi aku ingin ikut kamu bay. sebentar aja, empat sampai enam hari lah”
“sudah, nanti kamu bisa menyusul. sekarang selesaikan dulu deadline-mu. tadi kamu berkata bahwa sedang pusing dengan deadline”
“tidak apa-apa, aku bisa menyerahkan kepada staf yang lain”
“jangan seperti itu, itu tanggung jawabmu”

sandra hanya diam sambil memasang raut muka sebal. raut muka yang selalu buatku ingin sekali mencubit kedua pipi bulatnya itu
“udah, gak perlu ngambek gitu, nanti bisa nyusul. Yogya ke Denpasar itu deket lah. 1 jam dengan pesawat. jika naik bis, sore kamu berangkat pagi jam delapan juga kamu udah nyampe di bali”
“tapi bay..”
“kenapa?” tanyaku
“tidak, tidak apa-apa bay. Pulang yuk, cafenya udah mau tutup”
“eh iya, oke” jawabku sambil mengangguk

Kami bangkit dari tempat duduk, dan aku mempersilahkan sandra untuk jalan di depanku. aku menyapa beberapa pegawai cafe yang sedang sibuk menaikan bangku-bangku di cafe.  pukul sebelas malam tepat, cafe djendelo sudah harus beristirahat. cafe kecil di atas toko buku toga mas, yang bernuansa kayu.

“Bay, aku mau ngomong” ujar sandra sambil menunduk
aku berjalan mendekatinya “Ya, ada apa sandra?”
“kamu tau kan rumah itu seperti apa” kali ini dia menatapku, menatap tepat di mataku.
“Tau, tempat dimana aku kembali, walau sejauh apapun aku pergi, lalu?”
“aku tidak bicara rumah dalam bentuk bangunan.  tetapi aku bicara tentang rumah yang lain”
aku terdiam, berusaha menebak maksud perkataan sandra
“Sebanyak apapun orang-orang yang menawarkan rumah, tapi aku selalu kembali ke satu rumah. namun rumah itu belum aku miliki” ujarnya
langkah kakinya membawa tubuhnya semakin dekat. tercium aroma parfumenya yang khas, sangat lembut, seperti bau sebuah permen manis.
“Kamu mau pindah rumah? bilang dong jangan muter-muter”
“iya, aku akan pindah rumah. rumah itu kamu”
aku kembali terdiam. detik-detik di sekitarku terasa membeku, hanya seperti hanya kami berdua yang hidup”
“sebanyak apapun lelaki yang mendekatiku, setulus apapun, senyaman apapun yang mereka tawarkan padaku, bagiku, rumah yang paling nyaman itu kamu. rumah yang aku butuhkan” ujarnya dengan senyum
“kenapa aku?”
“karena, aku bisa menjadi ‘aku’  jika bersamamu, aku bisa merasa aman, tanpa takut apapun. nyaman yang aku butuhkan”
aku hanya tersenyum mendengar perkataannya
“terimakasih, sandra. akhirnya kamu mengerti” jawabku sambil tersenyum.

di perjalanan, hanya suara angin yang terdengar di telinga kami. jalanan kota Sleman mulai berangsur-angsur sepi, hanya lampu-lampu jalan yang menerangi kami. begitupun juga gedung-gedung dan pertokoan di sepanjang jalan, sepi. tiba-tiba ku rasakan, kedua tangan sandra memelukku erat dari belakang. sangat erat.
“setelah urusan deadline ini selesai, aku akan menyusul” ujarnya sambil sedikit berteriak “sekrang, aku tau kemana aku harus ‘pulang’ ”
kami berdua tertawa lepas.

Rumah, namun yang ini berbeda. Jika rumah dan penghuninya berjauhan, bukan penghuninya yang kembali, namun keduanya saling mencari. pun keduanya merasa sebagai penghuni ataupun rumah. karena rumah sesungguhnya itu, hati dan cinta.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: