Pohon Bercerita

Aku suka melihat orang-orang yang berlalu-lalang di hadapanku atau yang sekedar duduk di kursi yang ada tepat di sebelahku. Ya, hanya itu yang bisa aku lakukan, sejak pertama kali aku hadir di taman ini. sudah banyak yang aku lihat, mulai dari orang-orang yang sedang jatuh cinta, menangis, atau orang yang terlihat seperti menunggu.

Ah, tentang menunggu, aku punya cerita tentang hal yang satu itu.
Setiap pukul 5 sore, atau sekiranya menjelang matahari melukis jingga di langit, selalu ada seorang pria yang duduk di kursi yang berada tepat di sebelahku. sambil membawa segelas kopi, dia memperhatikan orang-orang yang berlalu lalang. kadang-kadang, kepalanya terlihat menoleh kesana kemari seperti mencari sesuatu. hampir setiap hari, selama setahun dia melakukan hal yang sama. aku pikir dia sedang menunggu seseorang. Hasil nya pun selalu sama, dia berjalan pulang dengan langkah gontai, seperti menyeret banyak harapan yang sudah patah.

Musim terus berganti, dan saat itu mulai memasuki musim gugur. Pria itu datang lagi, melakukan hal sama. Namun kali ini dia membawa secarik kertas dan terlihat menuliskan sesuatu. aura nya seperti sudah mati, tidak bergairah. padahal di sekitarnya semua orang berpasangan, berbagi tawa, berbagi kasih. bahkan yang sendiri pun juga berbagi. Entah mereka berbagi bersama burung yang selalu datang mengunjungi taman, atau bersama orang-orang yang melintas sambil membagikan kue-kue yang terlihat sangat lezat. Namun pria itu tidak, bahkan ia membawa harapan-harapan yang sudah bertahun-tahun patah.

aku lihat dia beberapa kali mencoret-coret apa yang sedang dia tulis dan menggelengkan kepalanya. aku semakin penasaran dengan apa yang dia tulis pada secarik kertas itu.
tidak lama, dia pun bangkit berdiri sambil meninggalkan kertasnya di atas bangku. Aku mencoba membaca apa yang ia tulis. Setiap kalimat aku baca, aku rasakan apa yang dia tulis. perlahan, aku mulai merasakan apa yang pria itu rasakan. aku seolah-olah memikul harapan-harapan yang patah.

Bahkan daunku pun sepertinya ikut merasakan apa yang di rasa pria itu. perlahan, mereka gugur di terpa angin. Tergeletak dan mati, bersama harapan-harapan patah yang di tinggalkan oleh pria itu.

Tiada satu haripun aku lewati tanpa menunggumu disini, di bawah pohon teduh ini. Pukul lima sore hingga saat matahari mulai lelah menyinari, aku tetap menunggu di sini. aku datang membawa harapan. namun selalu pulang dengan matinya mereka yang di bunuh oleh kenyataan. Tapi yakin ku tak sekalipun hilang, bahkan otak ku sepertinya sudah memperingatkan hatiku, untuk tidak lagi duduk di situ, karena waktu ku dengan mu telah usai. Dan lagi-lagi di bunuh kenyataan. Segala surat yang aku kirim, mungkin saat ini sudah menjadi abu di perapian di kala malam membawa selimut dingin kepadamu. entah sudah berapa harapan yang patah sia-sia, mungkin tak terhitung. Mungkin saat ini yakinku sudah padam, semua harap ku juga sudah lenyap di makan waktu. walau nanti aku tidak melihatmu, datanglah kesini, ditempat matinya segala harapan ku.

Dan kemarin, aku melihat seorang wanita tua, berjalan seidikit tertatih dengan tongkatnya. wanita tua itu duduk di kursi itu sambil memegang foto. entah itu foto siapa, yang terlihat hanyalah gambaran seorang pria. Dia hanya memandangi foto itu, sambil sesekali memperhatikan orang yang lalu lalang. hingga matahari terbenam pun dia tetap duduk di situ.

Hari perlahan menjadi gelap, barisan lampu taman sudah menyala, menggantikan terang matahari. suasana taman pun tak seramai sore hari. tiba-tiba kudengar isak tangis dari wanita tua itu. ia tampak memeluk erat foto yang sedari tadi ia pegang. lalu ia menatap lagi foto itu dan seolah-olah sedang bercengkrama dengan benda itu. sepintas terdengar kata maaf terucap dari bibirnya. Aku memperhatikan foto itu lekat-lekat. sepertinya aku mengenali foto itu.

entah mengapa pada saat itu aku ingin menangis dan memeluk wanita itu. Wanita yang selalu di tunggu dengan harapan-harapan yang kemudian mati akhirnya datang. Ya, aku adalah pria yang menunggu itu, namun sayang, sekarang, aku hanya berwujud sebatang pohon seperti sekarang, yang tumbuh bersama harapan-harapan yang sudah mati.

Advertisements
Tagged , , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: