Cerita dari Murray st

photo by : @amrazing

photo by : @amrazing

Sore itu, murray street tampak ramai oleh orang yang hilir mudik. Ada yang terlihat terburu-buru ada juga yang  terlihat santai menikmati sore. Saat itu pukul 5 sore, Daniel  sedang berdiri dekat papan nama jalan. matanya melirik kesana kesini, memgikuti arus hilir mudik orang-orang.

Di tangannya sudah ada seikat bunga untuk seseorang. Di rengkuh dan di jaga nya bunga itu, agar tak sampai rusak jika sampai kepada pelmilik nya. Daniel merubah posisi berdiri nya, dengan menyender kepada tembok yang ada di sebelahnya. Dirasanya kaki nya sudah mulai pegal.

‘hei nak’ sapa seorang kakek tua

‘iya? ada apa kek?’ Daniel menoleh

‘sedang menunggu orang terkasih?’

Daniel hanya tersenyum dan mengangguk. Ia pun memandang sekitar nya lagi. bukan hanya matanya, kepalanya pun ikut mencari seseorang yang dia tunggu. ia mengeluarkan telepon genggamnya, dan membuka pesan dari orang tersebut.

Tunggulah aku tepat di bawah papan jalan murray, kita bertemu jam 5

Dilihat jam tangannya, ‘ini sudah jam 5 lebih’ Batin daniel.

“kau terlihat cemas sekali ” terdengar kembali suara kakek itu

Daniel menoleh ke sumber suara “iya, aku sudah berjanji dengannya jam 5 tadi, tapi dia tak kunjung datang”

“semoga beruntung. Salah jika kau berjanji bertemu di sini”

“memang nya kenapa?” tanya daniel sambil menyeritkan dahi

kakek itu hanya tersenyum dan duduk di sebuah bangku yang tak jauh dari tempat Daniel berdiri. Daniel mentap kakek itu, terlihat sorot matanya sedang mencari-cari sesuatu di antara kerumunan orang yang lewat. ‘mungkin dia menunggu’ batin Daniel.

 

****

Satu jam berlalu, Daniel mulai lelah berdiri. Ia berjalan menuju bangku di mana kakek itu duduk. ia bersandar dan embusan napas nya terdengar berat. ia memandangi bunga yang ia bawa sedari tadi, sambil batinya bertanya-tanya, dimana orang yang ia tunggu sekarang.

“tidak usah bertanya pada batin mu, sedang dimana dia”

“Mengapa?” tanya  Daniel heran

“lihat lah aku, berawal berdiri sepertimu, lalu berakhir dengan duduk seperti ini, selama 15 tahun”

“kau menunggu siapa?” tanya daniel

“Anak ku, tapi dia sudah meninggal” jawab kakek itu lirih

Daniel hanya terdiam, menatap pria tua itu dengan heran. mengapa dia masih menunggu di sini, sedangkan ia sudah tau, anaknya telah tiada

“kau heran?” tanya kakek tua itu sambil menoleh ke arah daniel

“iya, mengapa kau masi menunggu?”

“aku menyesal, tak seharusnya aku menunggu di sini. aku seharusnya menjemputnya ke sekolahnya, bukan berdiri disana, dengan santai menantinya pulang lewat arah sini. dan itu toko ku” samnbil menunjuk sebuah kedai kopi yang tidak jauh dari tempat mereka duduk ” sebelum kembali ke rumah, aku biasa mengajaknya untuk ikut aku membuat kopi”

“lalu kenapa kau tidak menjemput nya?”

pria itu bergeleng “aku tidak tau, entah kenapa. hingga aku berakhir seperti ini, setiap sore duduk di sini, menunggu. Apa kau mau seperti aku?” tanya nya kepada Daniel

“tentu tidak, lalu aku harus apa?”

“kau ini pria, mengapa kau harus menunggu untuk orang yang kau sayang ? gerakan kaki mu, hampiri dia”

“tapi kita sudah menyepakati janji untuk bertemu di sini”

“tidak seharus nya pria menunggu. membuat orang yang kau temui berjalan kemari sendiri, yang semestinya ada kau di sebelahnya”

Daniel tertegun, ada benarnya juga perkataan pria tua ini, mata daniel berpindah melihat suasana sekeliling nya yang sudah mulai gelap. awan-awan langit sudah menampakan jingga nya. lampu-lampu di sepanjang jalan orchard road sudah mulai di nyalakan. Orang yang di tunggu Daniel tak kunjung datang. lalu ia merogoh kantong nya dan mengambil kotak kecil di balut kain warna hitam. ia memandangi kotak itu sambil berpikir tentang yang di ucapkan pria tua itu

“bagaimana? kau masih ingin menunggu? sungguh, tidak ada enak nya jika menunggu. lebih baik kau hampiri”

Daniel menoleh ke arah pria tua itu, lalu tersenyum “terimakasih pak”.

Daniel bangkit dari duduknya, dan berlari kecil, menghampiri, orang yang ia cintai, Ibunya.

Advertisements
Tagged , ,

4 thoughts on “Cerita dari Murray st

  1. maya says:

    Suka banget baca blog nya 🙂

  2. destriana says:

    Ahhh… suka…! Keren twist di endingnya. Gue pikir dia lagi nunggu pacarnya. Haha…
    Though it would be great seandainya lo menulisnya dengan cara yang umum (kayak huruf besar di awal dialog dan huruf kecil setelah dialog) and less typo.
    Well itu terserah sih. Tiap penulis kan punya gayanya masing-masing ya. Hehe…
    Keep on writing. Dan thanks udah mampir di blog gue ya… 😉

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: