Bahasa Air

air yang mampu berbicara berbagai banyak hal

air yang mampu berbicara berbagai banyak hal

Ada satu cerita tentang air, bahkan banyak cerita soal air. namun yang pasti, jenis nya ada 2, bahagia atau pun sedih. Dinda duduk di depan laptop nya sembari menuggu coklat panas nya menjadi hangat. tapi dia tidak hanya menunggu itu saja, ada banyak hal yang ia tunggu. Suasana kafe peacock coffee sangat sepi di siang hari, hanya ada beberapa pengunjung saja yang mampir. bahkan terkadang, hanya sang barista saja yang duduk di belakang meja, menunggu pelanggan yang ingin menikmati hasil racikan nya.

Tatapan mata dinda, memperhatikan satu-satu pengunjung yang datang ke cafe itu. Ada yang asyik dengan laptop nya, bercengkrama dengan lawab bicara nya dengan di selingi senyum senyum kecil, ada pula yang menopang dagu, dan memperhatikan jalanan di luar cafe, seperti sedang menunggu.

Begitupun juga Dinda, ia menunggu sosok yang memiliki janji kepada nya 3 taun lalu, tepat di cafe . Tepat nya selang 2 meja dari tempat nya duduk, di bawah sinar lampu yang di buat sedikit redup. Di tatap nya tempat itu, tidak kosong, melainkan ada 2 orang yang seperti nya muda-mudi yang sedang memadu kasih di antara gelas-gelas kopi yang mereka pesan. Persis apa yang Dinda sering lakukan bila sosok itu ada. Bahkan bukan hanya 2 gelas saja, bisa 4 gelas, atau hingga bertemu fajar.

Adinda mengeluarkan laptop nya dari tas yang ia bawa. di hidupkan nya laptop itu, terpampang jelas foto ia bersama sosok itu, sedang menikmati sore di pantai Pandawa. Dengan latar beakang laut, serta langit jingga senja, mereka berdua terlihat serasi dengan saling berpelukan dan sosok itu mencium kening Dinda. ‘sudah lama sekali aku tidak pulang ke bali’ gumamnya dalam hati.

Dinda membuka situs blog nya, dan mulai mengetikan kata-kata lewat jemari nya. Itu yang sering ia lakukan ketika ada sesuatu yang mengganjal di hati nya, atau sesuatu yang tak bisa ia ucapkan di dengan bibirnya. Ia mengetik ‘RINDU’. Jemari nya seakan-akan tau apa yang ingin di ungkapkan oleh hatinya, seolah menari di atas keyboard, memilih huruf untuk di jadikan kata, lalu kalimat, kemudian paragraf, dan perlahan menjadi paragraf cerita.

Air mata nya keluar dengan sendiri nya, ada simpul senyum kecil yang tergambar di wajah Dinda, senyum yang menggambarkan sedikit kelegaan dengan apa yang ia rasakan.

Apalah arti RINDU bila hanya kata yang terucap? Apalah artinya RINDU bila aku di sini hanya bisa memeluk bayang mu, yang akan terhapus oleh malam? Bagi ku, RINDU itu adaah kau, yang tidak terhapus oleh apapun”

Tulisan itu menjadi akhir dari cerita yang di tulis Dinda pada blog nya. Bukan nya tenang, batin Dinda makin bekecambuk dengan “RINDU”.

Di minum nya coklat yang tadi dia pesan, perlahan,  sambil mencoba menennagkan batinnya itu.  Diletakkan nya gelas putih berisi coklat yang tinggal setengah itu, tatapan Dinda berhenti pada sesuatu di jari nya. ia meraba nya, sambil mengingat kenangan 4 tahun yang lalu.
Sosok itu dengan gaya nya yang humoris, melamar nya dengan menggunakan Kostum beruang di sebuah taman. air mata Dinda, kembali jatuh, mengingat kenangan yang tak akan ia lupakan seumur hidup nya.

“I’m here without you baby, but you’re still on my lonely mind
I think about you baby and I dream about you all the time
I’m here without you baby, but you’re still with me in my dreams
And tonight girl, there’s only you and me”

potongan reff dari 3 doors down, membuyarkan lamunan Dinda, ia melihat telepon gengam nya, mendapati nomor tak di kenal nya, memanggil.

“halo” sapa Dinda halus

“iya, dengan ibu Dinda?”

“benar, ini dengan siapa?”

“Saya utusan dari Militer ..”

jantung Dinda langsung berdegub kencang, setiap kali ia mendapatkan telepon dari perwakian militer. harap Dinda itu adalah berita baik yang di sampaikan.
dinda menutup telpon nya, Mata nya berkaca-kaca. Di matikannya laptop nya, dan memasukan nya secara terburu-buru ke dalam tas nya. Tak lupa juga ia meninggalkan 2 lembar 10 ribu serta selembar 5 ribu untuk tip kepada barista.
ia bangkit dari kursi, sambil berjalan dengan sedikit berlari, agar orang-orang tak bisa melihat, Dinda yang mulai Menangis.

******

“DISINI TERBARING

ANANDA WIRA ANGKASA

PEJUANG PEMBELA NEGARA. SEMUA JASA-JASA MU TAK PERNAH KAMI LUPAKAN”

Dinda hanya mematung di antara orang-orang yang datang. ia memandangi batu nisan tersebut, di tangannya ada buket bunga yang akan ia letakan di atas pusarannya. batin nya semakin berkecambuk. Tubuh nya seakan di hempas oleh kenyataan, bahwa sosok nya yang ia selalu tunggu tunggu telah menyatu dengan pertiwi. 3 tahun berturut-turut dia Rindu, 3 tahun ia menunggu, sekarang hanya tinggal nama dan kenangan yang tersisa. sedari tadi tangis nya tak dapat di bendung, bibir nya bergetar menahan perih. tak meledak-ledak seperti sanak famili yang lain, tangis nya hanya dalam diam. bibir nya berusaha berucap doa-doa untuk Ananda. Dinda lupa, sosok juga tidaklah abadi, sosok itu bisa di hapus dengan takdir yang kuasa.

Semua pelayat telah meninggalkan pusaran Ananda, hanya tinggal Dinda yang masih berdiri. ia merendahkan tubuh nya, lalu tangannya mengusap nisan itu, seolah itu adalah Kepala Ananda.

“Sayang, Aku Rindu. Bersabarlah, suatu saat aku juga akan berbaring abadi di sisi mu”

Advertisements
Tagged , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: