Istiqlal & Katedral

Banyu dan Rini sedang duduk di bawah pohon besar di area Monas. cuaca sore cukup panas, cahaya matahari sangat menyilaukan serta hawanya menyengat. Mata Banyu memandangi sekeliling nya, yang tampak ramai dengan masyarakat jakarta maupun turis-turis. ada yan sedang sekedar jogging, ada pula yang asyik berfoto dengan kawan ataupun famili. suasana langit pun hampir sama, hanya saja, langit kala itu di ramaikan oleh layang-layang yang asyik di terbangkan oleh anak-anak kecil.

Rini memperhatikan pandangan Banyu yang asyik memperhatikan suasana sekeliling nya. lalu pandangannya ia alihkan melihat suasana sekitar, dari ujung ke ujung, seperti menyapu. pandangan rini berhenti pada satu titik, melihat sepasang kekasih sedang bergandengan tangan mesra. Rini hanya termenung, memperhatikan keduanya. ‘betapa indahnya mereka’ batin Rini.

“Rin, kau memperhatian apa?” tanya banyu mengagetkan Rini

“itu, perhatikan mereka berdua yang sedang berjalan bergandeng tangan, indah bukan?”

“hmm, iya. sangat indah memang jatuh cinta itu”

“iya, namun ada indah yang juga menyakitkan”

“maksudmu, mawar?” tanya banyu sambil menyerikan dahi.

“bukan banyu” jawab Rini datar

pandangan mata Rini tertuju pada sesuatu pada diri Banyu, bukan mata, maupun bagian tubuh yang lain. hanya sebuah benda kecil yang menarik perhatian, dan menjadi jawaban dari pernyataan nya sendiri.

“ah iya, aku tau maksud mu Rin” banyu meghembuskan napas nya secara keras, dan melanjutkan “kau menyesal?”

Rini hanya menggeleng, dan tersenyum kepada banyu. banyu hanya membalas dengan merapikan helai rambut Rini yang terbang tertiup angin.

“untung dari awal keputusan sudah kita ambil ya” kata Banyu datar

“iya, tapi tetap juga pedih”

“aku boleh iri tidak ya kepada mereka” sambil menunjuk istiqlal

“kenapa?”

“istiqlal bagaikan kau, dan aku katedral nya, aku iri sekali dengan mereka. mereka selalu bnerdua.”

“ya, siapa tau mereka bersedih juga seperti kita, mereka kan hanya bangunan”

“iya, andai mereka bisa bicara,aku ingin tau, apa mereka saling jatuh cinta dengan kemegahan masing atau tidak”

“mugkin saja banyu”

hening beberapa saat menengahi percakapan mereka berdua. mata mereka tetap memandangi kedua bangunan Tua nan indah tersebut, seakan berandai-andai, dan bertanya pada pikiran serta batin mereka sendiri.

“Rin, mungkin perbedaan yang akan selalu bersama itu, hanya istiqlal dan gereja katedral itu”

“iya, beruntung sekali mereka ya, tidak seperti kita”

“hmm, beitulah, mungkin suratan.”

“aku tadi berhayal, bagaimana indah nya di saat kau hendak ke gereja untuk beribadah, dan aku hendak sholat di masjid, dan kita sama-sama jalan berdua, lalu berpisah mencariNYA dengan kepercayaan kita”

banyu hanya tersenyum dengan apa yang di dengar dari. mereka berdua bangkit dan berjalan menyusuri jalan pedestrian monas, yang di samping nya di tumbuhi pohon pohon perindang. mata mereka masih asyik menikmati Dua perbedaan yang berdiri kokoh itu. dengan senyum di wajah mereka.

pada ujung jalan, mereka yang jalan berdua beriringan, tiba-tiba terhenti dan saling berpandangan, hanya diam, tidak ada sepatah katapun yang keluar. senyum yang tadi mengembang berubah menjadi senyum getir, mata yang tadi nampak takjub, mulai berkaca ketika saling memandang yang tak kokoh.

Rini berbalik badan menuju mobil nya, begitupun juga banyu.dengan di saksikan 2 bangunan itu dan entah, bangunan kokoh itu, sedang menangis haru, atau sendu.

Advertisements
Tagged ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: