Postcard

Lembar demi lembar, menjadi sebuah cerita manis kelak

Lembar demi lembar, menjadi sebuah cerita manis kelak

Matahari belum memunculkan cahayanya, masi awan-awan jingga penyambut pagi makhluk bumi. Hanya ayam yang sedang bersaut-sautan membangunkan para pemalas dari mimpi-mimpinya, serta burung-burung yang berkicau merdu terdengar sayup-sayup di telinga. Ane sudah duduk di beranda rumahnya, menatap lurus, jauh ke kotak surat yang berada di depan rumah nya. sudah beberapa bulan ini kosong. sebenar nya tidak kosong, hanya saja, terasa kosong tanpa adanya postcard dari kekasih nya yang bertugas sebagai fotografer perang. terakhir kali ia menerima surat dari kekasih nya bulan juli lalu. dan setiap postcard yang di kirimkan olehnya, di kumpulkan oleh ane dengan rapi, di susun nya, lalu di letakkan di dalam kotak khusus. setiap kali ia rindu, ia selalu membukanya, dan membaca lagi, tulisan tangan itu. Bagi ane, post card itu seolah menjadi kekasih nya, tulisan nya, seakan menjadi bibir yang sedang antusias untuk bercerita. Namun, apalah arti itu semua, yang di rindukan Ane adalah Angkasa, sang penulis postcard itu.

“Ane, kau tidak ingin sarapan?” sapa ibunya dengan halus

Ane menoleh kepada ibunya dan tersenyum kecil “nanti saja bu”

“yasudah, ingat kau harus makan” sambil meletakan nampan berisi beberapa potong roti serta teh hangat “ini ibu sudah siapkan”

“terimakasih bu” jawab Ane.

Ane kembali menatap kotak surat itu, masih sama, dengan tatapan kosong penuh harap. setiap hari selama seminggu, bahkan selama berbulan-bulan. bahkan setiap tukang pos yang lewat depan rumah nya, ia panggil, untuk menanyakan apakah ada postcard untuk nya. Namun jawaban mereka selalu sama, tidak ada.

harapan dalam menunggu sebuah postcard, tak pernah hilang dari diri Ane. seperti obor yang menyala terang benderang. Bahkan, ketika ibunya mencoba untuk mematahkan semangat nya itu, Ane tetap saja tidak goyah.

“Ane, sudah lah, dia mungkin telah menjadi bangkai disana” seru sang ibu

“ibu ini berkata apa! dia tidak menjadi bangkai, dia hanya sibuk, dia belum mendapat sebuah postcard untuk ku kirim”

“Dari mana kau yakin?”

Ane hanya diam, menunduk, air muka nya berubah semakin murung, matanya mulai berkaca-kaca dan siap pecah dengan guyuran air yang nanti membasahi pipinya.

“Anne, maafkan ibu”

Anne tetap membisu, ia tidak menoleh kepada ibunya, kepalanya ia tundukan, seperti sedan mencari-cari sesuatu. mungkin ia mencari jawaban atas pertanyaan ibunya itu. Anne pun bangkit dari tempat duduk nya, dan berlari menuju gerbang rumah nya

“Mau kemana kamu naaaak?” teriak ibunya

“Aku mau menunggu di kantor pos! mungkin kurir pos lupa mengantarkan surat nya pada ku”

Anne membuka gerbang rumah nya, dan berlari kecil, menuju arah kantor pos. ibu nya mulai terisak. ia gagal membangunkan putrinya dari angan-angan nya, dari harapannya. putrinya sudah jatuh terlalu jauh. Sang ibu bingung, harus bagaimana ia berbicara tentang kenyataan kepada anak gadis nya itu. Karena tak sanggup sang ibu melihat Anne menangis, termakan kenyataan.

 

 

****

Suara riuh rendah terdengar di kuping Angkasa, matannya mencoba mengenali sekitarnya. di samping nya banyak sekali tubuh-tubuh manusia berserakan, bak daun-daun musim gugur. dari kejauhan, Angkasa melihat juga ada beberapa tentara yang masih tangguh menghadapi hujaman peluru dari lawan.

“Angkasa, hei hei, sadar, tetap bernafas, kita akan selamat angkasa”

“dimana aku?” tanya angkasa lirih

“tidak usah banyak bicara” sambil mengangkat tubuh angkasa “kau akan selamat, tenanglah prajurit”

angkasa mengikuti perintah yang menolong nya, ia tidak dapat melihat dengan jelas siapa yang menolong nya. dan tetap saja, suara teriakan, serta bising mesin-mesin pembunuh masih terdengar jelas di telinga Angkasa.

‘mati, aku lebih baik mati saja’ batin angkasa

lalu terdengar suara terikana keras dari jauh di telinga Angkasa

“AWAS, BOMB UDARAAA”

Angkasa menutup mata, dan tersenyum, seakan ia sudah bersiap untuk menemui sang pencipta. Hanya gelap, dan setelah itu, tak terdengar lagi suara bising-bising itu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: