Tentang Kebiasaan

umur boleh tua, tapi romantisme memberi bunga tidak pernah tua

Peremapatan di depan kedai kopi tuan bachri mulai ramai lalu lalang kendaraan. tidak seperti dulu, 60 tahun yang lalu, saat Raka masih menjadi karyawan di kedai itu. dulu bukan ramai lalu lalang kendaraan, tapi manusia. Raka duduk di sebuah bangku tepat di depan kedai kopi tuan bachri. di pandangi nya jalan-jalan sekitarnya, serta orang yang lalu lalang. lalu ia pun fokus memandangi satu tempat, sebuah ruang kosong di salah satu sisi perempatan jalan. muncul simpul senyum dari bibir nya. walaupun tubuhnya menua, walaupun kulit nya mengeriput, tapi ingatan tentang tempat itu, ia tak pernah lupa. kenangan dimana pertama kali ia bertemu dengan istrinya.

itu juga menjadi tempat pertama ia menyatakan perasaan nya kepada Andiri. tidak terbesit di pikiran Raka untu mengajaknya ke restoran. hanya tempat itu yang terbayang di pikiran Raka saat itu. sedikit sunyi, dan hanya di terangi oleh lampu jalan bergaya khas zaman belanda dulu. di mulai dari situlah, setiap minggu kedua pada awal bulan Raka selalu membelikannya bunga. Dan juga selalu berjanjian untuk bertemu sepulang kerja di bawah lampu  itu hingga berpuluh-puluh tahun kemudian.

Raka memegang sweeter rajutan yang sedang ia kenakan, memandangi nya dan terenyum haru. warna nya hijau yang sudah sedikit lusuh, dan terlihat ketinggalan zaman sekali. memang, zaman terlalu keji untuk menilai, namun historis akan selalu bijak untuk menyimpan nilai. jika di bayar sekalipun, Raka tidak mau memberikan sweeternya. sweeter itu adalah hadiah ulang taun dari Andini untuk nya, yang ia rajut sendiri setiap hari. dan lagi-lagi, tempat itu yang menjadi saksi nya.

mungkin jika bisa bercerita, lampu itu sudah banyak bercerita kepada orang-orang yang lalu lalang setiap hari tentang Raka dan Andini. Raka sempat berpikir untuk mencuri lampu penerangan itu, dan di bawanya pulang sebagai memoar perjalanan cintanya.

“kek”

“iya,Esa ayah mu sudah selesai?” tanya Raka kepada cucunya.

“sudah kakek, ayooo nanti keburu sore”

Raka pun bangun dari bangku itu, dan berjalan tertatih bersama tongkat yang ia pegang erat sebagai bantuan.
ia duduk di sebelah bima, lalu mentap matanya dalam-dalam. mata yang mirip sekali dengan Andini, coklat dan meneduhkan.

“ayah, pakailah-seatbelt-mu”

“iya nak, sudah. kau kemudikan saja mobil mu, aku sudah rindu ingin bertemu ibumu”

ia sekali lagi menatap tempat bersejaraj itu, dan berharap, sampai nanti, tempat itu tetap ada.

“oke ayah, sekarang kita ke makam ibu”

Raka hanya tersenyum, dengan bunga kesukaan Andini, mawar merah.

Andini, aku rindu ini minggu ke 2 awal bulan

Advertisements
Tagged , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: