Pengaruh intensitas komunikasi terhadap kelancaran LDR

malam semua

yap, udah lama gue gak ngepost di blog, karena berbagai kesibukan. tapi gue tetep nulis kok di Ms. word. anyway, gue sekarang udah punya banyak kenalan yang suka nulis, jadi lumayan ada yang bisa di ajak sharing, cari ide dan sebagai nya. and now,im part of kumiskom. bukan ini bukan perkumpulan jomblo kumisan. ini komunitas menulis di kampus gue.

oke malem ini gue bakal ngebahas soal LDR. jangan heran, kenapa jomblo bisa bahas LDR, itu sudah menjadi keunikan tersendiri. one a lighter note, jomblo itu lebih ampuh dan bijaksana kalo menanggapi hal-hal percintaan. trust me.

judul nya sedikit kayak skripsi. emang sih, ini adalah luapan gue karena di kelas gue gak bisa menyampaikan ide ini di mata kuliah penulisan ilmiah. padahal ini masalah juga di dunia anak muda. dan juga menyangkut juga pada masalah komunikasi (iya gue anak komunikasi). here we goes !!

LDR itu Long Distance Relationship, simplenya, elo lebih deket sama henpon elo biar deket sama pacar, simple nya lagi, hubungan jarak jauh. bisa di bilang kalo jaman dulu namanya INTERLOKAL. kebanyakan yang bilang LDR ini enggak enak. tapi itu cukup naif bagi gue. mengapa? stigma-stigma negative lebih berkembang dari pada positive nya. contoh : LDR itu bikin deketnya sama abang-abang jual pulsa, LDR itu jomblo di perhalus, LDR itu membuka kans buat selingkuh.

all right, enough with that shit, even the shits its real. tapi pernah gak sih kalian lihat sisi positive dari LDR? apa sih yang menjadi penyebabnya isu negative LDR lebih banyak berkembang? itu semua karena satu, masalah komunikasi dan intensitas nya.

seharusnya, LDR itu meningkatkan kita dalam urusan komunikasi. coba pikir, kalian berhubungan jarak jauh, pengen ketemuan, satu-satu nya cara? lewat skype on kamera, itu termasuk komunikasi. kalian pengen ngobrol, ada aplikasi chat dan alexander grahambell udah nyiptain telpon, komunikasi masih bisa lancar bukan?

namun sebagian orang pasti ada yang bilang “kan tergantung orang nya bro”. lah kalo gitu kenapa dari awal lu komitmen buat LDR? nyapek-nyapekin diri aja. “kan karena sayang” otak lo di kemanain? hati dan otak itu sebenernya membantu kita. cuman ya namanya manusia, otak nya jarang di pake sih.

simple nya kita ambil gini = intensitas komunikasi yang baik dalam LDR, akan menghasilkan hubungan yang baik, namun jika intensitas kurang dalam LDR, maka akan berdampak buruk pada kelangsungan hubungan.

jelas?

memang elo gak bisa mengontrol dia sehari-hari, elo gak bisa ketemu dia, dan dia gak ada di saat-saat yang di butuhkan. tapi come on, buat apa kalo gitu kalian LDR kalo ngeluh masalah kayak gitu?

sometimes memang kebutuhan akan ‘jasmani’ itu musti di penuhi, but hey, yang LDR selalu ada buat kamu walaupun hanya telpon, skype, sms. gak cukup? ya wajar, manusia memang makhluk egois. tapi cobalah apreciate sebuah LDR. yang di satu kota aja kadang-kadang gak bisa ketemuan kok.

LDR itu mengajarkan kita banyak hal, belajar menjaga kepercayaan, belajar mengejar&tidak putus asa (karena pasti kita ingin pulang buat ketemu, itu impian LDR-ers), dan belajar menghargai. dan LDR itu bukan bang thoyib yang 3 kali puasa 3 kali lebaran gak pulang 😐

come on open your mind, LDR gak seburuk apa yang kalian pikirkan. kalian hanya melawan angka, melawan jarak. dan kalian lebih dari itu semua, asal you have a faith on your heart!

dan intinya cuman satu, intensitas komunikasi. segalanya harus di komunikasikan. komunikasi itu hal pertama di sebuah hubungan, selain kejujuran. its bullshit if you a honest guy, tapi intensitas komunikasi kamus ama pacar kamu jelek.

sama aja kayak lo ganteng, tapi kalo ngaca di air comberan.

jadi sodara-sodara sekalian, bagi kalian yang menunaikan ibadah LDR, tetap semangat, jangan putus asa, tingkatkan intensitas komunikasi, tumbuhkan rasa percaya. 1 hal penting, jika dia bener-bener sayang sama kamu, LDR itu hanya kerikil kecil.

yang membedakan kalian yang tetep LDR sama yang putus karena LDR cuman satu, KEPERCAYAAN. kalian punya itu wahai LDR-ers

 

*ps : intensitas komunikasi yang baik, bukan berarti elo jadi posesif ya. its stupid!

Advertisements
Tagged , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: