Rein

Sore itu tampak berbeda di jogja, hujan membasahi jalanan hingga senja pun tak di beri kesempatan untuk menampakan wujud nya.  Di sebuah café bergaya jadul, juno duduk sendiri  dengan segelas coklat hangat di hadapannya.  Alunan musik sayup sayup terdengar, karena terganti oleh suara hujan. Suara yang sebenar nya tidak ingin ia dengar lagi. Matanya memandang jauh ke sebrang café, memandangi lalu lintas yang sedang ramai dengan bunyi-bunyi klakson kendaraan. Terlihat 2 sejoli sedang ingin menyebrangi jalan, dengan membentangkan jaket biru untuk menghindari hujan, keduanya erat bergandengan, dan dengan hati-hati menyebrangi jalan itu. ‘ seharus nya aku menggandeng tangan mu rein’ gumam juno ketika melihat mereka. Batin juno terasa pedih, sesak, ada rasa bersalah yang menghantui nya sejak 4 tahun yang lalu.

 

‘hei, apakah aku boleh duduk di sini?’ tanya seorang gadis kepada juno.

‘tentu, siapa saja boleh duduk di sini’ jawab nya.

‘ku perhatikan dari jauh, kau sibuk sekali dengan laptop mu, hingga minuman mu menjadi dingin’

‘ah? Dari mana kau tau coklat ini menjadi dingin?’ tanya juno sembari memegangi gelasnya ‘ iya, sudah dingin, aku terlalu sibuk mengejar deadline pekerjaan ku’ jawab juno

‘memangnya, kau bekerja sebagai apa?’ tanya gadis itu

‘aku web programmer, hanya freelancer’ jawan juno santai. Juno memperhatikan gelas yang di pegang gadis itu, berisi coklat hangat, sama seperti juno. ‘ itu akan menjadi dingin jika kau tidak meminum nya’

‘aku meminumnya pelan-pelan, menikmati setiap teguk nya. Ini minuman kesukaan ku. Aku tidak rela jika ini cepat-cepat ku habiskan’ ujar gadis itu

‘benarkah? Kita memiliki kesukaan yang sama’ kata juno

Sambil menyeritkan dahi nya ‘coklat itu kesukaan mu? Aku tidak yakin, kau tidak bisa memperlakukan dengan semestinya’

‘ini kan hanya sebuah minuman, aku bisa membeli nya lagi’ sergah juno

‘lalu terhadap orang yang kau sayang, kau perlakukan seperti coklat ini juga?’ ujar gadis itu mantap.

‘maksud mu?’ sambil menyeritkan dahi.

‘cara kau memperlakukan sesuatu yang menjadi kesukaan atau kesayangan mu,itu mencerminkan cara kau memperlakukan orang yang kau sayangi’ ujar gadis itu.

‘benarkah? Dari mana kau tau?’tanya joni.

‘karena kau tidak bisa menghargai apa yang menjadi kesayangan mu’ sambil mengulurkan tangan ‘ aku rein, senang berkenalan dengan mu’

‘aku juno’ tatap juno heran.

Percakapan kecil itu yang terus di ingat juno, setiap kali ia berkunjung ke café ini. Dan bukan hanya coklat saja yang menemani percakapan mereka. Senja pun menjadi latar cahaya mereka dan kcau buruh sore hari menambah merdu suasana percakapan itu.

Gadis pecinta coklat, tidak terlalu tinggi, dengan tatapan mata yang tajam di balik kacamatanya, dengan rambut pendek sebahu. Tak ketinggalan, sepatu converse usang  nya, yang entah kenapa, selalu match dengan outfit yang di gunakannya. Perkenalan singkat itu, membawa juno ke pertemuan-pertemuan yang lain, membawa juno tenggelam dengan obrolan tentang berbagai obrolan. Sejak itu, juno di buat jatuh cinta oleh senja, nyanyian burung sore, serta rein.

 

Manis nya coklat, selalu menjadi pemanis ingatan juno soal rein.

**

        Juno perlahan-lahan membuka matanya, kepalanya terasa sakit seperti di hantam palu godam. Matanya memandangi langit-langit, lampu neon putih menyilaukan mata nya. Di pandangi sekitar nya, hanya ada tiraai putih yang mengelilingi nya. Serta bau-bau alkohol menyesaki hidung nya, bau yang sangat dia benci. Di lihat tangannya,sebuah jarum sudah menancap di tangannya.  Tiba-tiba dia mengingat rein, gadis yang di cintai nya.

‘rein, rein dimana kau?’ teriak juno.

Terdengar suara langkah kaki mendekati juno.

‘tenang tuan, tenang. Jangan terlalu banyak bergerak’ ujar suster itu.

‘rein, rein dimana sus, dia dimana?’ tanya juno dengan suara lantang dan meronta.

‘iya, sabar tuan, nanti biar dokter yang memberi tau. Tenang tuan’ ujar suster berusaha menenangkan juno

‘ada apa suster?’ tanya salah seorang dokter.

‘tuan juno sudah bangun dok, dia mencari gadis itu’ ujar suster itu

Sambil menghela nafas panjang ‘ya sudah, biar saya yang menangani ini’ ujar dokter.

‘selamat siang tuan juno’ sapa dokter ramah.

‘siang dok, rein, rein dimana dok, dia dimana?’ tanya juno lirih.

Sang dokter berusaha menjelaskan semua yang terjadi. Tatapan juno menjadi kosong setelah mendengar apa yang di beritaukan oleh sang dokter. Seperti ada yang membanting nya dari ketinggian, tubuh nya lunglai, roh nya seakan-akan terangkat.  Tangan juno gemetaran, sepert ada yang menampar nya berkali kali. ‘ rein maafkan aku’ gumam juno sambil menyeka air matanya.

**

 

Sore itu, juno mengajak kekasih nya rein, untuk berjalan-jalan menikmati sore di pantai. Tapi, matahari senja terhalang oleh hujan, tapi tetap saja, juno melajukan mobil nya namun tidak ada arah ingin kemana lagi.

‘hmm, aroma hujan, aku suka ini’ ujar rein sambil menutup matanya ‘sejuk, damai aku jadi rindu suasana pedesaan’

‘ memang, tapi rencana ku hari ini untuk mengajak mu melihat senja di pantai, jadi batal’ kata reno

‘hei, tidak apa sayang’ sambil menggenggam tangan juno ‘bagaimana kalo kita ke café saja, aku jadi ingin coklar hangat’ ujar rein.

‘ide yang bagus, baiklah café’

Juno memutar arah mobil nya, menuju café dimana ia sering berdua dengan rein. Pelayan café itu pun sampe hafal, apa yang akan di pesan oleh mereka berdua. Hanya dengan satu sapaan ‘halo mas’ para pelayan sudah tau.

Sepanjang perjalanan, rein bersandar di pundak juno, seperti bantal yang membuat nya nyaman. Bahkan juno, sudah seperti rumah bagi nya, seseorang yang selalu dia cari, seseorang yang selalu dia hampiri setelah berkelana melewati hari-hari, dan menceritakan segala nya, atau hanya sekedar menyenderkan kepala kedadanya, dan menikmati pelukan juno yang seperti selimut.

Mata rein terpejam, menikmati aluan lagu take me home dari radio, music piano melantun merdu, menari-nari di telinga mereka berdua.

“. . . . im only happy when im with you

          Cause home for me is where you are ….”

‘ I love you, my home’ ucap rein sambil tersenyum

Juno mencium kening rein, sebagai balasan atas kalimatnya. Hujan di sore itu pun membawa kedamaian di antara mereka berdua.  Berkhayal, jika waktu ini dapat di hentikan sementara, agar lebih lama lagi bisa menikmati waktu berdua seperti ini. Hanya gelap malam, yang saat itu memisahkan keduanya.

‘ hei, kita sudah sampai ‘ ujar juno

Juno turun, dan berlari kecil, sambil membuka pintu mobil untuk rein. Juno memperlakukan nya selayaknya tuan putri yang anggun.

‘kejar aku kalau kau bisa sayang’ teriak rein di bawah rintik hujan.

‘hei hati hati sayang’ teriak juno sambil melepas jaket nya.

Rein berlari kecil menuju café itu dengan tertawa lepas. Sambil menikmati hujan yang turun,samar terdengar teriakan juno

‘rein awaaas’

**

Kicau burung tak lagi indah, seperti menyuarakan kesedihan, seperti mengolok-olok juno. Desir angin menemani langkah juno, tangan yang memegangi kruk penopang bergetar, rasa pilu menyesak di dada. Juno tak dapat menahan bendungan airmatanya.  Sosok rein yang terbayang di kepala juno, telah hilang, senyum senyum manis di bibir nya tenggelam, bersama gundukan tanah yang bertabur bunga. Hanya nama rein yang terukir di atas nisan dan menancap kokoh. Tidak ada lagi rein, tidak ada lagi senja, semua berubah menjadi kelabu. Walau senja pada waktu itu menghangatkannya, namun semua itu sudah tidak ada artinya. Tubuh juno seperti di hempas, di pukul martil kenyataan tepat di wajah nya. Juno tersadaar, tidak hanya malam yang memisahkan mereka, namun  hari itu, tuhan mengambil rein untuk selamanya.

 

coklat hangat, akan selalu menjadi dingin, tanpa rein. Nyanyian burung tak lagi menjadi merdu, dan hujan, juno membenci nya. Setenang apapun aroma hujan, tapi bagi juno, itu menyakitkan.

Advertisements
Tagged , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: