berada di balik punggung

tadi waktu di jalan menuju ke Djendelo coffee,gue sempet iseng merhatiin sekitar pas lagi berhenti di lampu merah. cukup crowded banget jogja sore ini, ya maklum sih hari minggu. apalagi kalo bukan pasangan muda mudi yang  meramaikan jalanan jogja.  di antara keramaian trafict light, gue liat ada 2 sejoli yang menarik perhatian. gue deketin motor gue ke mereka, dan yap, gue kaget ngeliat si cewe tidur dengan pulas nya di punggung si cowo, dan si cowo dengan setia megangin tangan nya.

gue tertegun, bukan karena gue iri lantaran gue jomblo, tapi hello ini jogja lagi rame banget, panas banget, dan lagi berhenti di lampu merah, dan si cewe bisa pules aja tidur. dan keliatan nya NYENYAK BANGET. senyaman itu kah si cewe? iyap, gak bisa di ngertiin pake logika. gue aja sengantuk” nya di jalan kalo lagi di kondisi kayak gini, jadi gak ngantuk lagi.

dan dari situllah yang mendasari gue untuk buat cerpen ini, kalo masi berantakan, mohon maaf yak

Raut wajah dita terlihat risau, jam di tangannya sudah menunjukan pukul 2 siang namum hujan tak kunjung reda. ia menengok kesekliling nya, keadaan sekolah sudah mulai sepi. hari itu sekolah pulang lebih awal, namun dita masih ingin berlama-lama dulu di sekolah. duduk dan baca buku di balebengong adalah kesukaannya. ia berjalan mondar mandir lobi sekolah yang semakin lama semakin sepi. kemudian ia duduk di kursi lobi sambil memandangi hujan yang semakin reda, di dekap nya erat-erat tas yang semula ada di punggung nya. tatapan nya kosong ke arah air cucuran yang mengalir.

sepasang kaki membuyarkan lamunan nya.

“ini pake jaket gue aja, dari pada meluk-meluk tas gitu” sambil memberikan jaketnya.

Dita hanya menengok sebentar, dan terdiam. sebelum nya dia tak pernah melihat pria itu. ‘ah mungkin anak kelas lain’ gumam dalam hati.

“enggak, makasih gak dingin kok”

pria tersebut duduk di sebelah Dita sambil mengulurkan tangannya “Nama gue Edo, gue murid baru di sini” , sejenak dita tertegun, dia tidak pernah mendengar ada kabar di sekolahnya, jika ada anak baru. berita semacam  itu cepat menyebar di sekolahnya. ‘atau aku yang kudet tentang sekolah?’ pikirnya, “Dita” jawab nya singkat.

“umm, . kenapa belum pulang? nunggu jemputan?” tanya edo

“engga, memang lagi  males aja pulang, gue suka baca di sana” sambil menunjuk  bale bengong

“memang enak sih baca, atau sekedar duduk di sana. angin nya semilir banget” jawab edo sambil tersenyum kecil.

kedua nya terdiam, hanya deru hujan yang terdengar semakin deras. tatapan Mata dita menyapu ke seluruh sudut sekolah, dan tinggal mereka berdua yang tersisa di sekolah, bersama dengan pak dedi penjaga sekolah. tiba-tiba ada perasaan aneh yang menghampiri nya, dita berusaha mengingat sesuatu seperti ada yang dia lupakan pada hari itu

“mampus gue”

“kenapa lo?” tanya edo, namun dita tidak menghiraukan pertanyaan edo. dia ingat dia punya janji dengan adik-adik nya di rumah. Dengan tergesa-gesa dia melengkahkan kaki nya menuju gerbang utama sekolah. untung di depan sekolahnya ada sebuah halte bus, namun sialnya halte tersebut sedang penuh sesak oleh orang yang berteduh. ‘ah bodo amat’ gumam dita. Dita berlari menuju halte dengan tas yang dia pakai sebagai pelindung dari hujan. tiba-tiba hujan seperti tak lagi menghujam nya secara keras, seperti ada tambahan yang melindungi nya dari guyuran hujan. Ternyata edo yang ikut juga berlari sambil membentangkan jaket nya.

“bilang dong kalo mau ke halte, gue takut juga sendirian di lobi” suara edo terdengar cukup keras, hingga dita menyeritkan dahinya.

“buat apa aku memberitahumu? memang nya kau siapa?”

“your man someday”

“hah!?” dita tersentak, mereka sudah sampai di halte yang penuh sesak orang yang berteduh.

“iya, kamu tidak salah dengar. pokoknya someday”. dita masih tertegun sambil memperhatikan lelaki itu, bukan , dia tidak terpesona karena edo tampan, jika di bandingkan dengan Vino G Bastian edo jauh dari yang namanya tampan. dia heran, baru menemui pria yang dengan “pede” nya mengatakan akan menjadi “you man” di suatu hari nanti.

“hey, sebuah ucapan terimakasih mungkin lebih baik” tegur edo.

“ya, terimakasih, tuan kepedean” ucap dita dengan nada sebal. Dita kembali membeprhatikan sekelilingnya, dan memperhatikan satu persatu bus yang lewat di depannya, mencari bus yang akan meneuju halte dekat rumahnya. edo tiba-tiba mengenakan jaket nya kepada dita. dia hanya menoleh dan menatap nya heran.

“kali ini elo jangan nolak, di jalan dingin. hati hati ya”

dita masih menatap heran edo yang semakin lama menghilang di antara kerumunan orang-orang di halte.

*****************************************************************

sesampainya dita di rumah, ia mendapati kedua adik nya tertidur pulas di soffa sambil memeluk buku bacaan bergambar. hari itu dita berjanji akan membacakan buku cerita bergambar kepada keduanya. mereka senang sekali jika dita membacakan cerita.

“arel, putri, banguuun, kenapa kalian tidur di sini, ayo pindah di kamar kakak”

“hmmm, eh kakak udah pulang, kok kakak agak kebasahan? kakak ke ujanan?” tanya putri seraya mengucek kedua matanya

“iya sayang, tadi kakak kehujanan sedikit, ayo kita pindah kekamar. arel, bawa buku si putri” suruh dita sambil menggendong di putri.

dita pun memenuhi janji nya untuk membacakan mereka cerita bergambar, hingga akhirnya mereka tertidur lagi. ia merasa senang, bisa melihat kedua adik nya tertidur pulas. dita hanya tinggal berempat bersama seorang pembantu. ibunya sudah meninggal ketika putri, adiknya yang paling bungsu berusia 2 tahun karena kecelakaan, dan ayah putri adalah seorang pengusaha mebel yang sering keluar kota. walaupun begitu, ayah dita sangat menyayangi mereka semua.

segelas coklat hangat telah ia seduh beserta parutan keju di atas nya, sembari menemani ia bersantai di ruang tengah. hujan masih saja belum berhenti juga, sudah 3 jam lama nya langit pertiwi menangis. dita tiba” memikirkan edo. buat apa dia memberikan jaket nya kepadanya. lantas dia pulang bagaimana? pertanyaan itu melintas di pikiran dita.

“ah sudah lah, dia juga cowo, ngapain juga di pikir” gumam dita.

keesoka hari nya di sekolah, dita tidak melihat edo menampakan batang hidung nya, bahkan di kantin sekalipun, tempat yang paling di cintai oleh para kaum lelaki. dan saat pulang sekolah, dita menunggu edo di lobi sekolah. dia hanya ingin mengembalikan jaket edo. sambil membaca buku, dia sesekali memperhatikan sekeliling nya, mencari edo.

“halo, thank you udah mau nunggu walaupun tanpa di minta” sapa edo dengan senyum sumringah.

“ya halo” sambil menyerahkan jaket kepada edo “kalo bukan karena jaket ini, aku sudah di toko buku” jawab dita ketus.

“haha, tolong jangan memasang muka seperti itu, aku bisa luluh. kamu lebih manis jika seperti itu”

muka dita langsung merona, memang, banyak yang bilang dita adalah gadis yang manis, namun tetap saja, naluri wanita, jika di puji pasti akan merona pipi nya.

“hmm, pembual besar”

dita meninggalkan edo di lobi sekolah sendirian. untungnya hari itu cerah, tak ada lagi yang mengejar dita dan merentangkan jaket di atas kepala dita. langkah kaki dita di percepat bergegas menuju halte untuk ke toko buku.

********************************************************************

jam sudah menunjukan pukul 8 malam. bus yang biasa di tumpangi nya mogok di jalan. jadi terpaksa dia harus turun di jalan dan melanjutkan perjalanan nya dengan berjhalan kaki. di tengah perjalanan, dari jauh 2 orang pria berbadan besar sedang duduk-duduk menikmati rokok yang ada di tangannya. dari jauh dita sudah bisa melihat bahwa tatapan mereka tampak liar, dan tanpa di tanya pun dita sudah tau, mereka berdua adalah preman sekitar.

“hai nona, mengapaa kau sendirian malam begini?” kata salah seorang pria sembara menghadang langkah dita.

“wah, fresh bos, masih SMA”

“jangan macam-macam kalian. kalian mau apa?” dita mulai ketakutan, suara nya gemetaran. ia tak tau harus bagaimana, berteriak pun percuma. seluruh tubuh dita melemas.

“ah kami hanya ingin bermain main dengan mu sebentar” mereka berdua memegang tangan dita sangat kuat, dita tak sanggup melawan dua pria berbadan besar ini.

“CUH!!”

“sialan, kau berani dengan kami ha” sambil mengeluarkan pisau ” kau tau benda ini bisa merobek-robek baju mu? bukan hanya baju mu saja, kulit mulus mu ini, bisa kita lukai jika kami mau”

“TOLOOONG” “hmmmmmppph…” kedua preman itu membekap mulut dita yang berusaha teriak, dita mulai lemas dan ketakutan.

“oke kita robek yang ini bos”  pisau yang di pegang mulai merobek kancing jaket dita, kemudia kancing seragam dita, namun tiba tiba ada suara teriakan pemuda dari arah lain.

“woy! banci” BUK!! sebuah bogem mentah melayang ke arah salah satu preman tadi. “ngapain lo ganggu dia, sini lo kalo berani” tantang si pemuda. dita kemudian jatuh lemas, dan melihat pemuda yang menolong nya, namun dia tidak dapat mengenali nya, karena pemuda itu menggunakan topi. pemuda itu menuju arah dita dan berbalik memunggungi dita, untuk melindungi nya. pukulan demi pukulan serta tendangan, pemuda itu layang kan kepada kedua preman. dita hanya melihat punggung pemuda yang menolong nya, punggung yang berusaha melindungi nya.

“kalo berani jangan sama cewe, banci!” teriak pemuda tersebut. kedua preman itu kabur, setelah tidak sanggu lagi meelawan pemuda itu dengan tangan kosong.

“dita, kamu gak apa-apa?” tanya pemuda itu.

“enggak aku gak apa-apa. kamu tau dari mana namaku?”  sambil membuka topi nya ” yourman again”. itu adalah edo, iya orang yang baru di kenal nya di sekolah kemarin.

“oke, aku akan berterimakasih jika kau tak menyebutkan kata yourman lagi di hadapan ku”  ketus dita

“iya baiklah”

“oke, terimakasih, aku berhutang budi padamu do”

“tidak usah, ayo aku antar kau pulang. nanti semakin malam”

dita menurut saja apa yang di katakan edo, untuk di antarkan pulang. edo adalah cowo yang baru di kenal nya kemarin, tidak biasanya dita langsung mau di bonceng dengan orang yang baru di kenal. namun karena keadaan yang memaksa, harus bagaimana lagi.

di atas motor yang melaju ke arah rumah nya, dita kembali hanya melihat punggung, iya punggung yang sudah melindungi nya. kokoh seperti tembok. tanpa sadar, dita melingkarkan tangannya di pinggang edo dan mulai bersandar. matanya terpejam menikmati, walau hanya bersandar saja, ia sudah seperti mengenal lama, ia masuk dalam kenyamanan. dita seperti merasa sudah mengenal lama punggung ini, punggung yang pernah ia sandari juga sewaktu masih kecil. saat dita terjatuh dan di gendong oleh sahabat lelaki kecil nya.

perasaan takut yang sedari tadi menyelimuti nya, hilang, ia merasa benar benar aman, di balik punggung pria ini.

 

*******************************************************

masih kacau? iya maaf lagi berusaha. 😀

Advertisements
Tagged

3 thoughts on “berada di balik punggung

  1. pndsat says:

    “hujan masih saja belum berhenti juga” , kalimat ini agak menggaruk mata yah, hehe
    alu ceritanya agak mainstream indonesia bet

  2. pndsat says:

    lumayan tapi an, doyan aja aku baca2 cerper disini

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: